Ilmu Falak Era Heliosentris
02.26 | Author: Hasan Al Faraby


Pendahuluan
Di malam yang cerah, hiburlah dirimu sendiri dengan pertunjukan gratis terbesar di bumi kita. Lihatlah ke atas langit, Kamu akan melihat pertunjukan yang sangat mempesona. Ribuan bintang berkilauan laksana permata di atas kain bludru hitam. Kamu mungkin akan tergoda untuk menyanyikan lagu masa kecil, “bintang kecil di langit yang biru. Amat banyak menghiasi angkasa”.[1] Jika kita meninjau keberadaan bumi ini, pasti akan terlinas di pikiran kita tentang keajaiban dan hal-hal yang tersembunyi di balik ciptaan Sang Mahakarya.
Alam kita menyajikan banyak hal menarik serta menimbulkan banyak pertanyaan. Dimulai dari bagaiman alam ini tercipta, apa yang menyebabkan bintang bercahaya, mengapa planet terus berputar, serta apa yang menjadi pusat peredaran benda-benda langit, dan masih banyak lagi hal-hal yang belum dapat tersingkap oleh penglihatan dan pengetahuan kita. Sehingga keberadaan berbagai problema yang kompleks memebuat para astronom ingin mencoba untuk mencari tahu dan meneliti berbagai hal tersebut.
Sebenarnya hal semacam itu bukan masalah baru dikalangan manusia, sebab pencarian dan pemikiran untuk menggali ilmu dan hal-hal yang tersembunyi dibalik penciptaan alam semesta ini, seperti yang diungkapkan di atas, para astronom barat yang diwakili dari Polandia, Yunani, dan Negara barat lainnya berusaha untuk menemukan jawaban atas itu semua, begitupula para astronom timur.
Sehingga setelah usaha keras yang bertahun-tahun mereka lakukan, banyak terlahir teori-teori baru yang mengungkap berbagai hal yang dulunya belum diketahui kemudian dengan ditemukannya teori tersebut dapat terungkap berbagai hal yang mengganjal tersebut, walaupun keberadaan teori tersebut dinilai masih relatif kebenarannya. Tapi tidak dipungkiri berkat pemikiran mereka, kita mampu untuk membuka wacana baru bagi keilmuan yang selama itu buntu tak dapat diutarakan jawaban yang pasti dan rasional.
Pembahasan
A.    Definisi
Konsep manusia mengenai apa yang dimaksud dengan alam semesta telah berubah secara radikal sepanjang zaman. Pada mulanya mereka meletakkan manusia sebagai pusat alam semesta (egosentris), kemudian mereka menemukan teori baru bahwa bumi adalah pusat alam semesta (geosentris). Selanjutnya, mereka mengetahui bahwa bumi hanyalah sebuah planet, dan yakin bahwa mataharilah adalah pusat alam semesta. Kemudian, mereka menyadari bahwa matahari hanyalah bintang biasa yang merupakan anggota dari sebuah gugusan bintang yang disebut galaksi dan galaksi inilah yang merekasebut alam semesta. Setelah itu, mereka menemukan lagi bahwa galaksi hanyalah satu daei sedemikian banyak galaksi yang membentuk alam semesta. Kenyataan inilah yang kita yakini hingga saat ini.[2]
B.     Sejarah Pertumbuhan Teori Heliosentis
Sebenarnya fenomena langit telah diteliti sejak zaman kuno oleh orang-orang Cina, Mesopotamia, dan Mesir. Tetapi astronomi sebagai ilmu, baru berkembang pada zaman Yunani, yaitu pada abad VI. Pada zaman ini, ada dua teori  mengenai peredaran planet-planet, yaitu teori geosentris dan teori heliosentris, dimulai teori geosentris pertama kali dikemukakan oleh Aristoteles pada tahun 384-322 SM. dan teori heliosentris dikemukakan oleh Aristarchus pada abad 3 SM. Kedua teori ini saling bersaing pada masa tersebut.
Bapak astronomi Yunani dimulai oleh Thales pada abad VI SM. yang berpendapat bahwa bumi berbentuk datar. Dan meramalkan terajdinya gerhana pada 585 SM.[3]  Walaupun pada abad yang sama, ada seorang ilmuwan yang mengetaui bahwa bumi berbentuk bulat (phytagoras). Akan teteapi terobosan penting yang pertama dalam astronomi dilakukan oleh Aristoteles dua abad kemudian. Dia mengemukakan bahwa bumi berbentuk bulat dengan didukung sejumlah bukti ilmiah.ia juga berpendapat bahwa pusat jagat raya ini adalah bumi.
Aristarchus berpendapat bahwa bumi bukanlah pusat alam semesta (geosentris). Akan tetapi dia juga menyatakan bahwa bumi berputar dan beredar mengelilingi matahari yanag merupakan pusat gerak langit (heliosentris).Inilah awal munculnya teori heliosentris. Namun teori ini tidak mendapat posisi keilmuwn pada zaman itu disebabakan oleh kurangnya pendukung. Walaupun ada beberapa tokoh yang menentang teori Ptholomeus (geosentris), sebenarnya lebih dari 13 abad konsep geosentris diterima oleh masyarakat dunia. Baru pada tahun 1512 M ( abad XVI M), Nicholas Copernicus membuka sejarah baru dengan menegemukakan bahwa benda- benda langit meneglilingi matahari dengan orbit lingkaran ( heliosentris). Mulai abad inilah teori heliosntris diterima oleh masyarakat dunia.
Teori Copernicus ini muncul dengan berbagai macam tantangan. Sampai-sampai Copernicus dianggap murtad oleh pemuka gereja dan dianggap tidak waras oleh banyak kalangan ilmuwan karena telah melanggar dogma gereja dan dogma ilmu pengethuan.[4] Dia juga mengatakan bahwa bumi mengelilingi matahari pada tahun 1543 M. sistem ini dalam bahasa inggris disebut heliocentric dan dalam bahsa arab disebut mukhtash bimarkazasy-syams.[5]
C.    Tokoh-tokoh Teori Heliosentis
Berbicara mengenai tokoh dalam teori heliosentris, maka akan kami mengemukakannya yaitu:
1.      Aristarchus
Dia berasal dari Samos (sekitar 250 SM) merupakan orang pertama yang tegas menyebutkan bahwa bumi bulat dan merupakan ahli astronomi klasik Yunani yang pertama kali menemukan tentang system heliosentris.
Dia berani mengemukakan pandangannya yang berbeda dari tokoh sebelum dia yaitu tentang bumi itu merputar dan mengelilingi matahari yang merupakan pusat gerak langit.
2.       Nicolas Copernicus
Nicolas Copernicus (1473-1573 M) lahir pada tanggal 19 pebruari 1473 dan orang yang pertama kali menyatakan secara terang-terangan bahwa matahari merupakan pusat tata surya dengan menerbitkan bukunya yang berjudul  “De Revolusionibus Orbium Colestium”. Dalam buku tersebut dia mengemukakan ada suatu fakta yang telah dia ketahui yaitu bumi berputar pada sumbunya (rotasi) dan bersama-sama planet-planet lain mengelilingi matahari.   
3.      Tycho Brahe
Tycho Brahe (1546- 1601) berasal dari Denmark, dia banyak merancang alat-alat Astronomi yang besar belum pernah dibangun oleh Astronom sebelumnya. Sebenarnya masih banyak lagi tokoh-tokoh yang  berperan dalam teori Heliosentris, seperti Johannes Kippler dan Galeleo Galilei.
D.    Perspektif Agama dan Masyarakat Terhadap Teori Heliosentis
Kalau menurut persfektif ilmu alamiah mungkin teor ini dapat dikatakan sebagai sutu kemajuan yang pesat, sebaba kalaui menurut prsfektif ilmu pengetahuan selama suatu teori itu dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi criteria disahkanlah suatu teori, maka hal itu dianggap sutu hal yang wajar dan biasa untuk ditolerir. Suatu pernyataan mengenai pengetahuan atau hal-hal yang ilmiah itu secar ateoori dikatakan kebenaran dan kevalidannya itu hanya bersifat realtif tidak benar semata.
Tapi dalam persfektif yang lain yakni agama (gereja) pada saat itu, mereka seakan memepunyai kekuasaan penuh untuk menyatakan dan membuat seagalanya. Singkat kata, para pihak gerejalah yang mampu untutk menetapkan terhadap teori yang dikemukakan oleh Nicholas Copernicus mengenai teori barunya nag berbeda denagan pihak gereja (paham teori geosentris).
Kebenaran teori Heliosentris itu dianggap telah menyalahi dan menentang kepercayaan gereja, yang mana suadh turun terjangkit pada diri orang-orang gereja..Sehingga ketika mendengar ada sesuatu yang baru maka, respon yang pertama klai dilontarkan adalah sikap penolakan dan penindakan secara tegas kepada orang-orang yang ingin mengikuti dan mempercayai teori baru tersebut.
Salah satu hal yang harus kita ketahui bersana yakni tentang kebenaran atau kesalahan suatu teori itu dalam pandangan para ilmuwan. Bahwa semuanya itu merupakan panangan yang bersifat relative. Sehingga orang bart sendiri yang merupakan pendukung teori geosentris maupun heliosentris dianggapnya hanya sekedar teori yang kevalidannya masih perlu penelitian lebih lanjut.  
Penutup
Demikianlah makalah simple ples sederhana ini kami buat dengan susah payah. Ibarat “tak ada gading yang tak  retak”, sebagai manusia biasa , kami pun menyadari bahwa banyaknya kekurangan dan atau kesalahan yang terdapat pada makalah ini. Disamping adanya kelebihan yang datangnya hanya dari tuhan sang mahakarya, Allah swt. Oleh karena itu kritik dan saran kontruktif dari pembaca kami harapkan. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun dan umumnya bagi kita semua. amin
Daftar pustaka
Nasution, Hakim Pengantar ke Filsafat Sains, Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa, 1989
Herrod, Robbin,  Bengkel Ilmu Astronomi, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005.
Azhari, Susiknan, Ensillopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2008.


[1] Robbin Herrod, Bengkel Ilmu Astronomi, 2005, Jakarta: Penerbit Erlangga, hal. 6
[2]Lop. Cit. hal. 8
[3] Robbin kerrod.lop.cit.hal.34
[4] Andi Hakim Nasution, Pengantar ke Filsafat Sains,1989, Jakarta: Pustaka Litera Antarnusa, hal. 129 
[5] Susiknan Azhari, Ensillopedi Hiasab Rukyat, 2008, Yogyakarta:Pustaka Pelajar, hal. 193

This entry was posted on 02.26 and is filed under , . You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.